Purwodadi 12 Agustus 2026 - SMK Negeri 1 Purwodadi menjadi salah satu tempat pelaksanaan kegiatan IJTI Go to School dengan tema “Pelatihan Jurnalistik Anti Bullying dan Hoaks Menuju Positivisme Jurnalisme.” Kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi para siswa untuk mengenal dunia jurnalistik secara lebih dekat sekaligus memahami pentingnya bersikap bijak ketika menerima maupun menyebarkan informasi di media sosial.
Pelatihan menghadirkan sejumlah jurnalis dari berbagai media nasional sebagai pemateri. Mereka tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga berbagi pengalaman dan cara kerja jurnalistik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah derasnya arus informasi di media sosial.
IJTI Muria Raya adalah organisasi Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Wilayah Muria Raya yang mencakup wilayah eks Keresidenan Pati. Cakupan wilayah meliputi daerah Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Grobogan, dan Demak.Terdiri dari jurnalis televisi nasional maupun lokal.
Belajar Menulis Berita dari Dasar
Materi pertama disampaikan oleh Handoko Rifai, jurnalis Kompas TV, yang membahas dasar-dasar penulisan berita. Siswa diperkenalkan dengan prinsip 5W+2H, yaitu What, Who, When, Where, Why, How, serta Heart sebagai kepekaan dalam menyampaikan sebuah peristiwa.
Dalam jurnalistik, setiap informasi harus memiliki dasar yang jelas. Unsur Why perlu dikonfirmasi, sedangkan unsur How harus didukung dengan pengumpulan data yang memadai. Sementara itu, aspek Heart mengingatkan jurnalis agar tetap memiliki empati, termasuk tidak mengeksploitasi visual korban demi kepentingan pemberitaan.
Handoko juga mengenalkan prinsip sederhana dalam penulisan berita, yaitu 3S: Simple, Short, Spoken. Artinya, berita harus disampaikan dengan bahasa yang sederhana, singkat, dan mudah dipahami seperti bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Khusus untuk berita televisi, siswa juga dikenalkan dengan struktur paket berita yang terdiri atas lead, body, SOT (statement of tape), dan stand up reporter. Proses pembuatan berita dimulai dari visual planning, dilanjutkan wawancara, kemudian penyusunan naskah atau scripting/voice over.
Bijak Bermedia dan Melawan Cyberbullying
Materi berikutnya disampaikan oleh Oriza Joko Prasetyo N., jurnalis BeritaSatu, yang mengajak siswa menjadi pengguna media sosial yang lebih kritis.
Menurutnya, sikap kritis diperlukan agar seseorang tidak langsung percaya terhadap informasi yang diterima. Sebelum membagikan sebuah berita, informasi perlu diperiksa terlebih dahulu kebenaran dan sumbernya.
Dalam sesi ini, siswa juga dikenalkan dengan beberapa bentuk cyberbullying, antara lain flaming & harassment, doxing & impersonation, serta exclusion & dubbing. Berbagai bentuk perundungan di dunia digital tersebut dapat memberikan dampak serius kepada orang lain sehingga perlu dihindari.
Salah satu hal penting yang dibahas adalah perbedaan antara dapur jurnalistik dan media sosial. Sebuah berita jurnalistik harus melalui proses verifikasi dan memiliki sumber yang jelas. Sementara itu, informasi di media sosial dapat tersebar dengan cepat tanpa melalui proses verifikasi.
Para siswa juga diperkenalkan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 sebagai salah satu payung hukum dalam aktivitas informasi dan transaksi elektronik.
Belajar Membuat Voice Over dan Live Report
Materi ketiga menghadirkan Andhie Eko Prasetyo, jurnalis CNN, yang membahas teknik penyusunan berita, khususnya voice over dan live report.
Siswa diajak memahami bahwa live report bukan sekadar berbicara di depan kamera. Seorang reporter harus mampu menyampaikan informasi secara jelas sekaligus melakukan penelusuran terhadap peristiwa yang sedang dilaporkan.
Kemampuan mengolah informasi, memilih fakta penting, serta menyampaikannya secara runtut menjadi bagian penting dalam membangun sebuah laporan yang menarik dan dapat dipercaya.
Teknik Pengambilan Video dan Editing
Sementara itu, materi terakhir disampaikan oleh Suswanto Saputro, jurnalis MDTV/NET TV, yang memberikan wawasan mengenai teknik pengambilan gambar dan proses editing.
Pesan yang ditekankan adalah bagaimana menghasilkan karya yang jujur tetapi tetap menarik. Menurutnya, kekuatan berita dan kekuatan media sosial dapat dipadukan untuk menghasilkan konten yang informatif sekaligus memiliki daya tarik bagi penonton.
Dari seluruh materi yang diberikan, siswa mendapatkan pemahaman bahwa membuat konten bukan hanya soal bagaimana membuatnya terlihat bagus. Hal yang paling penting adalah memastikan fakta tetap menjadi dasar utama.
Pesan tersebut dirangkum dalam sebuah kalimat yang menjadi refleksi dari kegiatan pelatihan:
“Jangan mempercantik fakta, tapi perindahlah cara menyampaikan fakta.”
Melalui kegiatan IJTI Go to School, SMK Negeri 1 Purwodadi berharap siswa semakin memiliki kemampuan literasi media, mampu menghasilkan karya jurnalistik yang positif, serta lebih bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial.
Di tengah cepatnya informasi beredar, kemampuan untuk mencari fakta, melakukan verifikasi, berpikir kritis, dan menyampaikan informasi dengan cara yang baik menjadi bekal penting bagi generasi muda.

0 Response to "IJTI Go to School di SMK Negeri 1 Purwodadi: Bekali Siswa Keterampilan Jurnalistik dan Bijak Bermedia"
Post a Comment